by

Apakah Kita Dijamin Masuk Surga?

Hadis di atas shahih, bisa dilihat validitasnya di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, Shahih Ibnu Hibban, dan Mustadrak Imam al-Hakim.

Nah, kalau kita tidak punya jaminan, alangkah baiknya kita tidak sibuk menerakakan orang lain. Lebih baik kita menyibukkan diri sendiri dengan introspeksi, karena kelak setiap manusia menanggung hisab perbuatan amalnya sendiri-sendiri, bukan amal perbuatan orang lain.

Masih ingatkah dengan hadis berikut ini?

طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس
“Beruntunglah bagi orang yang menyibukkan diri dengan aibnya sendiri, daripada (menyibukkan diri dengan) aib orang lain”.

Baca juga  Yang Perlu Anda Ketahui tentang Al-Quran

Hadits tersebut Hasan menurut al-Bazzar, diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, Imam Hakim di dalam Sya’b al-Iman, Imam al-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir.

Menyikapi hadits di atas Imam Ibnu Hibban menegaskan:

الواجب على العاقل لزوم السلامة بترك التجسس عن عيوب الناس مع الاشتغال بإصلاح عيوب نفسه،
“Adapun yang menjadi kewajiban atas orang yang berakal adalah menegakkan keselamatan dengan cara meninggalkan aktifitas mencari aib dan kesalahan orang lain. Yaitu dengan cara memperbaiki kesalahan-kesalahan dirinya sendiri”. Lihat Kitab Raudhah al-Uqala WA Nuzhah al-Fudhala, h. 125.

Baca juga  Memberi Nama Anak Jangan Cuma Modern dan Keren Saja, Ketahui 5 Kriteria Nama Favorit Allah Ini

Kalaupun harus menasehati orang lain, tak perlu juga menasehatinya di depan umum (apalagi sampai diumbar di FB). Karena hal itu sama saja membuka aibnya.

Dalam hal ini Syeikh Abu Nuaim al-Isfihani yang juga mengutip pernyataan Imam Syafi’i mengatakan:

من وعظ أخاه سرا فقد نصحه وزانه،ومن وعظه علانية فقد فضحه وخانه
“Barang siapa yang menasehati saudaranya secara sembunyi-sembunyi (maksudnya adalah menasehatinya di kala sendiri, hanya empat mata misalnya), maka ia telah memberikan nasehat serta menghiasinya. Dan barang siapa yang memberi nasehat secara terang-terangan (maksudnya di hadapan orang banyak), maka pada hakikatnya ia telah melecehkan saudaranya itu serta mengkhianatinya”. Lihat Kitab “Hilyah al-Auliya’ h. 140.

Baca juga  Hukum Hak Cipta (Copyright) dalam Islam

Dengan demikian, mari perbanyak introspeksi diri, terlebih saya sendiri!

Source link

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed