by

Bendera Merah Putih dan Hukum Mengikuti Upacara Hari Kemerdekaan

Perayaan hari kemerdekaan dengan cara upacara bendera tidak pernah dilakukan oleh para ulama generasi abad ke tiga (salaf), terlebih di masa sahabat dan Rasulullah SAW. Namun di dalamnya terdapat beberapa sisi positif, di antaranya meningkatkan jiwa patriotisme, mengenang jasa pahlawan, dan yang paling utama tentunya mensyukuri nikmat yang luar biasa besar berupa kemerdekaan yang dianugerahkan Allah untuk bangsa ini.

Melihat dari beberapa sisi positif tersebut, maka memperingati hari kemerdekaan dengan upacara bendera adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan berpahala.

Dari sudut pandang kajian fikih berbasis kitab kuning, permasalahan ini bisa disamakan dengan perayaan maulid Nabi dengan titik temu (wajh al-Ilhaq) berupa luapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah.

Baca juga  Bolehkah Takbiran Sampai Pagi? Begini Penjelasannya

Dalam menyikapi perayaan maulid Nabi, al-Hafizh Ahmad bin Hajar al-Asqalani sebagaimana dikutip Jalaluddin as-Suyuthi menegaskan bahwa hal tersebut adalah bid’ah hasanah. Ibnu Hajar berargumen dengan menggunakan sebuah hadis Nabi mengenai anjuran berpuasa Asyura’ sebagai wujud syukur atas karunia Allah atas diselematkannya Nabi Musa As dan ditelenggamkannya penguasa diktator nan berbahaya, Fir’aun.

Dari titik syukur ini, peringatan maulid Nabi yang dimaksudkan mensyukuri kelahiran Rasulullah SAW memiliki sisi kesamaan dengan anjuran berpuasa Asyura’ sebagaimana diterangkan dalam hadis di atas.

Bila tidak karena para pahlawan yang dengan segenap jiwa dan raga berjuang melawan penjajah, maka belum tentu hari ini kita dapat menghirup udara segar. Bila tidak karena kekuatan persatuan yang kokoh menyingkirkan para manusia serakah nan lalim selama kurang lebih 350 tahun, mungkin saat ini kita tidak dapat merasakan kehidupan yang damai.

Baca juga  Lebih Baik Mana Shalat di Tempat yang Sama atau Beda Tempat?

Maka, kemerdekaan merupakan nikmat besar yang patut untuk disyukuri. Upacara peringatan hari kemerdekaan dapat membangkitkan jiwa patriotisme masyarakat yang merupakan kekuatan besar menjaga dan merawat nikmat kemerdekaan untuk bangsa ini.

Lebih tegas lagi apa yang disampaikan Syaikh Hisamuddin Affanah dalam himpunan fatwanya “Yas’alunaka fiddin wal hayati”. Beliau mengatakan “Perayaan hari kemerdekaan dalam pandanganku merupakan perkara yang urgens dan dianjurkan. Sebab dapat mengajak para penduduk bangsa untuk mengingat nikmat Allah dan mensyukurinya”.

Baca juga  Bolehkah Mendahulukan Tidur dari Shalat?

Hormat bendera yang merupakan rangkaian upacara bendera tidak dimaksudkan menyembah atau menuhankan sang saka merah putih. Namun merupakan ekspresi wajar sebagai bentuk kecintaan warga negara terhadap bangsanya.

Jika sudah demikian jelas mashlahat dan argumentasi ilmiah upacara bendera, masihkah anda menyangsikan kebolehannya?.

Sumber bacaan : Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi dan Hisamuddin Affanah, Yas’alunaka fi Addin wal Hayat.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Islamidotco dengan judul, “Hukum Upacara Bendera” pada 16 Agustus 2017

Source link

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed