by

HADITS LEMAH TENTANG LARANGAN MENOLAK PERMOHONAN MAAF

HADITS LEMAH TENTANG LARANGAN MENOLAK PERMOHONAN MAAF

Loading...

رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَتَاهُ أَخُوْهُ مُتَنَصِّلاً فَلْيَقْبَل ذَلِكَ مِنْهُ مُحِقّاً  كَانَ أَوْ مُبْطِلاً، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ لَمْ يَرِدْ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa yang didatangi saudaranya (sesama Muslim) untuk mengakui dan meminta maaf (atas kesalahannya) maka hendaklah dia menerimanya, baik dia yang bersalah atau benar, karena jika dia tidak melakukan itu (memaafkan saudaranya) maka dia tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat kelak)”.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak (4/170) dari jalur Suwaid Abu Hatim, dari Qatâdah, dari Abu Rafi’, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Baca juga  Kata Gus Mus Tentang Artis yang Menyekutukan Tuhan Karena Tuntutan Skenario

Hadits ini adalah hadits yang lemah. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Suwaid Abu Hatim, dia adalah Suwaid bin ‘Abdil ‘Aziz.

Imam Ahmad berkata tentangnya, “(Riwayat) haditsnya ditinggalkan (karena kelemahannya yang sangat fatal)”.

Imam Yahya bin Ma’in berkata, “Dia lemah (riwayat haditsnya)”.

Imam al-Bukhâri berkata, “Di dalam hadits (yang diriwayatkan)nya ada hadits-hadits yang mungkar (sangat lemah)” [1]

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Dia lemah (riwayat haditsnya)” [2]

Hadits ini meskipun dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, akan tetapi Imam adz-Dzahabi mengkritisinya dan berkata, “Akan tetapi Suwaid lemah (riwayat haditsnya) [3]”.

Baca juga  Kritik Doktrin al-Wala wal Bara

Bahkan Imam al-Mundziri menyatakannya sangat lemah. Beliau rahimahullah berkata, “Suwaid adalah bin ‘Abdil ‘Aziz, dia sangat lemah“ [4].

Imam al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadîr (4/318) juga mengisyaratkan kelemahan hadits ini dengan menukil dan membenarkan ucapan para ulama di atas.

Demikian pula Syaikh al-Albani menghukumi hadits ini sebagai hadits yang lemah[5].

Hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat lain, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh yang semakna. Dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (6/241). Akan tetapi hadits ini palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang merupakan pendusta dan pemalsu hadits. Imam al-Mundziri berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh (Imam) ath-Thabrani dalam al-Ausath dan dalam sanadnya ada (rawi yang bernama) Khalid bin Yazid al-‘Umari, dia adalah seorang pendusta” [6].

Baca juga  Hadis Ini Dibajak untuk Tanggapi Tangisan Ahok. Bagaimana Kualitas Hadis itu?

Juga diriwayatkan dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah  Radhiyallahu anhu, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh yang semakna. Dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (1/306), al-Imam al-Hakim (4/171) dan Imam al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ (3/249). Akan tetapi hadits ini juga batil (palsu), karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Ali bin Qutaibah ar-Rifa’i, dia meriwayatkan hadits-hadits batil (palsu) dari rawi-rawi terpercaya, sebagaimana penjelasan Imam al-‘Uqaili dan Imam Ibnu ‘Adi[7]. Bahkan Imam al-‘Uqaili menyebutkan hadits ini sebagai contoh hadits batil yang diriwayatkan rawi ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed